Green School

For Dutch just click here 😉

Sekolah yang dipanggil “green school” (sekolah hijau) memberi perhatian struktural kepada lingkungan hidup.

Perhatian itu mengarah ke:
– ruangan sekolah dan susunan, mebel-mebel, energi, pembersihan, urusan sampah, susunan lapangan
– kurikulum pendidikan
– partisipasi murid-murid (dan orang tua)
Schermafbeelding 2015-10-04 om 11.25.48

Schermafbeelding 2015-10-04 om 14.35.56

Dalam proyek “Ambon hijau dan bersih” syarat-syarat dirumuskan untuk menjadi “green school”. Syarat-syarat ini bisa direaliserkan oleh setiap sekolah, tanpa ongkos dan kesusahan. Syarat-syarat ini bisa dibuktikan dan dikontrolkan. Syarat international!
Proses kepada “green school” mengandung banyak bahan pelajaran buat guru-guru dan murid-murid. Tujuan: pelestarian dan kontinuitas status “green school”.
Di Ambon status green school offisial diberikan dalam tahun 2012 kepada SD Seilale. Bapa Walikota Richard Louhenapessy menyampaikan award.
Status “green school” juga bisa dicabut, kalau tidak ada kontinuitas.
Tentu setiap sekolah bisa menjadi “hijau”, tanpa award!

Syarat-syarat:

Pendidikan lingkungan ada bagian dari kurikulum
Pemisahan sampah:
Tempat pengomposan yang berfungsi baik
Kebun kecil yang dimaksutkan oleh murid-murid
Lingkungan sekolah hijau yang bervariasi
Aksi pembersihan / pengangkutan sampah di dekitar sekolah
Sekolah awet
Green team (kelompok hijau)

Jalan kepada “Green School”:

Syarat 1: Pendidikan lingkungan ada bagian dari kurikulum

Pendidikan lingkungan ada bagian dari kurikulum setiap kelas. Pendidikan lingkungan bisa dianggap seperti mata pelajaran sendiri, atau terintegrasi dengan mata pelajaran yang lain, seperti IPA dan Sains. Juga perhatian kepada lingkungan bisa diintegrasikan dalam ilmau bahasa, hitung dan aktivitas kreatif. Di Maluku menajar melalui menyanyi dan sandiwara bersukses betul!
Pendidikan lingkungan mendekap semuah alam dan maklup hidup. Masalah lingkungan sedikit disebabkan oleh anak-anak; lingkungan kotor tidak tanggung jawab anaknya. Namun anak-anak harus dapat pendidikan untuk menbangun perilaku yang betul terhadap lingkungan. Anak-anak bisa merupahkan contoh kepada orang tua dan menjadi pionir lingkungan!

Titik-titik perhatian:
– Ada materi pelajaran, dan material yang lain di sekolah? Di tempat yang tertentu, dan sudah jelas siapa bertanggung jawab atas alat-alat pengajaran ini? Apakah semua guru diberi informasi ini?

– Semua dosen perlu mengetahui material dan mengerti tujuan dan caranya. Kalau perlu merekan bisa minta penjelasan, pertolongan dan latihan.

– Para dosen merencanakan pelajaran lingkungan untuk waktu tertentu. Mereka berunding satu sama lain mengenai tema-tema, pelajaran dan kegiatan yang mereka mau melaksanakan, siapa dari luar sekolah (ahli, orang tua, lembaga, stakeholders) yang mereka mau melibatkan, dan ke mana mereka mau pergi dengan murid-murid. Dengan demikian semua dosen tahu mana sedang dipakai, pada waktu mana, dan oleh siapa; mereka juga tahu cara bekerjasama.

– Sebaiknya ada kaitan-kaitan antara anjuran-anjuran dari materi dari luar dan metode pelajaran biasa, antara lain mata pelajaran Sains dan IPA.

– Sehabis melaksanakan pelajaran dan kegiatan, sebaiknya diadakan evaluasi, penukaran informasi antara rekan-rekan kerja, juga dari sekolah yang lain. Kalau ada green box (peti pelajaran hijau) alat pelajaran baru ditempatkan dan daftar isi didesuaikan.

– Keawetan, keopenan terhadap lungkungan hidup, harus diintegrasikan dalam seluruh pendidikan dan dibicarakan dalam kelas. Ini bukan saja tugas dosen yang mengajar Sains atau IPA, tetapi semuah tim.

Schermafbeelding 2015-10-04 om 12.19.31

Syarat 2: Pemisahan sampah

Anak-anak harus dididik dengan 3xR: reduce, re-use, recycling (3xM.: mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang). Penting anak-anak bikin sedikit mungkin sampah, ajar jenis-jenis sampah, dan taruh sampah di tempat betul. Medaur ulang bisa dipraktekan di sekolah dengan sampah organik yang menjadi kompos, dan kertas lama bisa menjadi kertas baru.
Tergantung dengan apa yang bisa didaur ulang, bak-bak musti sediakan:
– sampah organik: ke tempat komposan, sisa makanan digoreng dan direbus dikasih binatang.
– sampah yang bisa didaur ulang: botol gelas, botol dan gelas plastik, karton dan kertas, logam
– sampah bahaya, seperti bateri
– sampah yang sisa

Titik-titik perhatian:
Pengumpulan sampah secara terpisah dilakukan? Jumlah bak sampah cukup untuk memisah sampah? Sudah jelas untuk semua orang di mana harus membuang macam-macam jenis sampah? (dengan memakai teks atau piktogram?)
Sudah diurus supaya sampah daur ulang diangkut ke tempat-tempat pengumpulan (kertas, karton, logam, botol gelas, gelas dan botol plastik)? Apakah sampah berbahaya dikumpul secara terpisah?
Apakah ada binatang yang diberi sisa makanan, atau ada “biopori”? Lebih bagus anak-anak sekolah piara ajam!
Dalam hal truk sampah tidak lewat sekolah, apakah sampah sisa diangkut ke tempat pembuangan sampah? Membakar sampah yang sisa menjebabkan asap beracun!

Syarat 3: Tempat komposan yang berfungsi baik

Membuat kompos berarti satu contoh mendaur ulang yang penting. Setiap sekolah, yang dapat tempat komposan, dapat tempat edukatif betul: perkenalan proses lingkungan berdasar atas lingkaran alam. Anak-anak bisa memeriksa maklup hidup yang berubah sampah organik menjadi kompos; anak-anak bisa membantu dan kerja. Kompos bisa digunakan di kebun sekolah atau dijual.
Bagaimana bikin dan menjaga tempat komposan bisa dibaca dalam folder “Membuat kompos”

Titik-titik perhatian:
Bikin tempat kompos; juga bisa pakai materi yang sudah dipakai. Tempat lebih baik dalam sombar, jangan sampai kompos terlalu kering.
Sudah jelas siapa bertanggung jawab atas tempat itu?
Apakah para dosen dan murid sudah tahu sampah mana yang boleh dan sampah mana yang tidak boleh dibuang di tempat koposan?
Sudah jelas siapa boleh kerja di tempat dan kapan?

Syarat 4: Kebun kecil yang dimaksutkan oleh murid-murid

Buat murid-murid satu kebun kecil edukatif betul! Kalau dorang boleh kerja di tanah, taruh biji, menjaga, panen, dorang mengerti proses lingkaran alam lebih baik.
Tiap sekolah bisa membuat tempat kebun kecil, namun dalam rak-rak di tembok. Satu botol plastik bisa juga mini-kebun!

Titik-titik perhatian:
Sudah ada kebun sekolah?
Harus bikin tempat dengan mengunakan menghilangkan semen?
Harus bikin rak-rak?
Apa yang masih harus dibuat untuk menyiapkan tanah?
Murid-murid berlaku aktif dalam kebun? Kelas-kelas yang mana?
Siapa berkumpul biji-biji, atau membeli? Atau ada sponsor?
Peralatan cukup? Bisa bikin sekop; menguna sendok?
Menetapkan bagaimana murid-murid bisa kerja; sendiri atau dengan kelompok?
Menetapkan mana kelas kerja dalam kebun-kebun.
Mungkin perlu orang pembantu kalau anak-anak kerja: orang tua, orang yang tinggal sebelah, tukan kebun?

Syarat 5: Lingkungan sekolah hijau yang bervariasi

Lapangan sekolah luas itu penting, supaya murid-murid bisa bergerak dan bermain. Juga penting lingkungan sekaloh hijau dengan cukup pohon, semak dan tanaman yang lain. Tanaman bervariasi berarti tempat edukatif, dimana anak-anak bisa meneliti tanaman, hewan dalam habitat.

Titik-titik perhatian:
Apa di lingkungan sekolah jumlah pohon dan semak bertumbuh dengan cukup? Atau jumlahnya bisa lebih tinggi dan jenisnya lebih bervariasi?
Murid-murid diminta untuk membantu mendapatkan tanaman baru? (mengumpulkan biji-bijian, menyemai, memindahkan, meninggalkan tumbuh liar)
Mengguna varisi dalam lapangan: tanah, air, batu, pasir.

Syarat 6: Aksi pembersihan/pengangkutan sampah disekitar sekolah

Schermafbeelding 2015-10-04 om 11.30.21

Aksi pembersihan berguna: mendapat lingkungan bersih, supaya anak-anak rasa bangga dan bisa bermain lebih baik. Anak-anak bisa ajar sampah itu jenis apa, dan berasal dari mana. Siapa buang sampah itu? Anak-anak ajar mana sampah organik dan tidak organik. (Boneka Koko Cacing tahu apa dia suka makan dan apa tidak suka makan!) Sampah yang dikumpul merupa materi pendidikan lingkungan.
Murid-murid bisa mengangkat satu bagian dari lingkungan, umpapannya sepotong pantai, dan membersikan tempat itu tertib. Akibat itu bagus buat anak-anak tetapi juga buat penduduk . Anak-anak kasih contoh yang baik dan bikin malu orang dewasa! Harapan semua penduduk mulai berubah perilaku dan beraksi bersama-sama!

Titik-titik perhatian:
Apakah sekolah sudah mengadakan aksi pembersihan dan kegiatan yang lain bagi sekolah dan sekitarnya?
Apakah baik tenaga pengajar maupun murid-murid dilibatkan dalam aktivitas itu?
Apakah sudah dibuat janji untuk menjaga kebersihan di lingkungan sekolah?
Sampah yang dikumpul dibawa ke mana? Atau dijual?

Syarat 7: Sekolah awet

Sekolah harus memperhatian kepada keawetan: material ruangan dan mebel-mebel, energi, air minum. Sekolah musti dapat peraturan mengurangi sampah dan urusan sampah, dan kasih contoh yang baik kepada murid-murid dan keluarganya. Memberikan air minum melalui dispenser, memakai piring dan gelas yang bisa dicuci. menstimulasikan anak-anak untuk membawa minuman dan snek dalam bungkusan yang bisa dicuci.

Titik-titik perhatian:
Air minum disajikan dari dispenser?
Jumlah gelas, cangkir dan piring yang bisa dicucikan cukup?
Sebaiknya gedung sekolah dan sistem penyediaan energi diperiksa juga. Tidak ada kebocoran di pipa air leding? Air hujan ditampung dan dipakai untuk tanaman-tanaman dan sebagai air pembersihan. Lampu hemat energi sudah dipakai?
Apakah bahan plastik bisa dikurangi dan/atau ditukar dengan bahan alami?

Syarat 8: Green team; kelompok hijau

Bagus kalau sekolah menyediakan satu kelompok yang berfungsi dengan baik terhadap aktivitas lingkungan di sekolah. Green team itu terdiri atas beberapa murid dan satu atau dua guru. Juga murid-murid punya orang tua boleh ikut, ambil bagian dalam proyek. Partisipasi dan perhatian dorang penting sekali!
Green team mengadakan mengkoordinasi aktivitas dan kegiatan. Juga orang tua dan orang yang tinggal dekat sekolah bisa dilibatkan.
Aktivitas itu bisa seringkali, tetapi juga setiap hari, umpamanya pengawasan dimana anak-anak buang sampah. Juga green team bis berkumpul kabar lingkungan dan taruh di tembok sekolah.

Titik-titik perhatian:
Green Team bisa membuat satu scan dari sekolah untuk mengecek syarat-syarat.
Green Team melakukan aksi jika perlu. Untuk itu rencana aksi dan perjanjian harus dipersiapkan, juga mengenai waktu. Green Kelompok harus memperhatikan daftar tilik yang disebut di atas ini; kelompok ini harus memikirkan apakah ada titik-titik lagi yang harus dimasukkan pada daftar tilik. Jika ada persoalan atau masalah, kelompok ini membicarakannya dan mencari pemecahannya.
Bagus kalau green team tulis rencana dan akibat aktivitas dalam buku.
Pengumuman membesarkan aktivitas!

Green team bisa menukarkan aktivitas dengan sekolah yang lain.

(ditulis oleh Ada Lilipaly – de Voogt, yang berbasis atas proyek “Ambon hijau dan bersih”, tahun 2010 – 2012 oleh EE-tim Vlissingen) – september 2015